Sedikit Cinta

“Apa kau sungguh ingin jadi suamiku?”

Dia mengangguk dan memegang tanganku erat-erat, “Tentu saja!”

Duniaku berubah saat itu juga. Terlebih saat dia meminangku di rumah.

“Aku sungguh menyayangimu!” kupeluk dia.  Kusesap aroma tubuhnya. Aroma kesungguhan.

“Bulan depan kita menikah.” ucapnya mantap. Aku tersenyum renyah dengan rona jingga di wajah.

“Aku menyayangimu juga!”

Bibir kami bertemu. Hangat.

***

Enam bulan sudah aku menyandang gelar istri. Perutku pun sudah bermanusia. Anaknya. Tiada hal paling bahagia di dunia ini selain menyambut kedatangan buah hati. Bukankah begitu sayang?

Suamiku tertidur damai, mungkin mimpi indah.

“Sayang, masih adakah sedikit cinta diciumanmu tadi?”

Kuelus pundaknya sambil menahan perih di pinggiran bibir yang lebam.

***

Gambar diunduh dari google.

Advertisements

24 thoughts on “Sedikit Cinta

  1. hmm, simple tapi ngena banget mas.. itulah kenapa kita harus memilih, memilih yang baik.. baik fisiknya, baik juga akhlak dan agamanya.. selalu saja, fiksi mas Adi itu bagus banget.. eh, ini blog baru ya mas??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s